|
 |
Jakarta, Kompas - Dengan melihat kondisi ekonomi dunia
secara keseluruhan dan kondisi dalam negeri Indonesia
ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2004 diperkirakan
sebesar 5 persen.
Prediksi dikemukakan oleh Head of Asia Pacific Economics
and Market Analysis Citigroup Don Hanna dalam seminar
"Economic and Political Outlook 2003-2004",
Rabu (23/4).
Perkiraan menguatnya kembali ekonomi dunia akhir 2003
pascaperang di Irak menjadi faktor eksternal pertumbuhan
ekonomi Indonesia tahun 2004.
Sementara faktor internal adalah kian stabilnya ekonomi
makro, terlihat dari menurunnya inflasi dan suku bunga
serta pengaturan kembali pembiayaan pemerintah sehingga
investasi kembali tumbuh.
Berdasarkan data yang telah diolah Citigroup, suku bunga
Maret 2003 sebesar 6,25 persen. Sampai enam bulan ke
depan, diperkirakan angkanya masih sama. Sedangkan 12
bulan ke depan diperkirakan akan turun menjadi 6,00
persen.
"Saya yakin, angka 5 persen dapat dicapai dengan
syarat Pemilihan Umum 2004 dapat berjalan mulus dan
pertumbuhan ekonomi AS juga lebih tinggi," kata
Hanna.
Hal yang perlu diwaspadai saat ini, menurut Hanna, adalah
dampak dari menyebarnya wabah sindrom pernapasan akut
parah (severe acute respiratory syndrome/SARS).
Sebagian negara Asia yang dilanda wabah ini telah mengalami
penurunan pertumbuhan, misalnya, Hongkong yang awalnya
diprediksikan tumbuh 3 persen, saat ini pertumbuhannya
tinggal 1 persen.
Akan tetapi, secara global, Hanna memprediksikan, ekonomi
negara-negara Asia Tenggara akan tumbuh 3,7 persen akhir
2003, sedangkan 2004 akan tumbuh 5,2 persen.
"Selama Indonesia tidak menjadi negara yang dicurigai
menularkan SARS, maka kemungkinan besar ekonomi tetap
tumbuh. Namun, jika akhirnya dicurigai, mungkin akan
turun sebesar 2 persen juga," ujarnya.
Ada dua macam dampak SARS terhadap perekonomian. Pertama,
terhadap industri jasa, yaitu pengurangan permintaan
dari negara yang dicurigai kena SARS. Kedua, antisipasi
terhadap penyebaran wabah yang mengakibatkan berhentinya
proses produksi karena karyawan diliburkan.
Ia yakin investasi di Indonesia tetap tumbuh. Alasannya,
suku bunga perbankan akan turun sehingga biaya investasi
juga turun. Selain itu, investor tidak akan berdiam
diri tidak berinvestasi, sebab jika tidak melakukan
investasi, stok modal akan terdepresiasi. Optimisme
pertumbuhan ekonomi 5 persen juga dikemukakan ekonom
Citibank, Anton Gunawan. (B16)
Ekspor Nonmigas 2004 Tetap Hadapi Kendala
Jakarta, Kompas - Indonesia diperkirakan masih akan
tetap menghadapi berbagai kendala di sektor ekspor nonmigas
pada tahun 2004. Kendala ini terutama diakibatkan oleh
semakin ketatnya persaingan dengan negara-negara lain,
terbatasnya permintaan (demand constraint), dan terbatasnya
pasokan (supply constraint) produk Indonesia.
Hal ini dikemukakan pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Chatib Basri, Rabu (23/4). Persaingan
yang semakin ketat, menurut Chatib, dapat dilihat dari
salah satu produk, yaitu tekstil yang pada tahun 2020
diprediksikan sebesar 64,68 persen akan dikuasai oleh
negara berkembang.
Secara dominan, yaitu sebesar 22,15 persen, produk tekstil
akan dikuasai oleh Cina. Sedangkan 16,26 persen oleh
negara Asia lainnya, termasuk Indonesia. Dengan demikian,
dapat dibayangkan betapa kecilnya porsi yang dipegang
Indonesia, yang selama ini menjadikan tekstil sebagai
salah satu andalan dalam perdagangan dunia.
Sementara itu, kendala akibat terbatasnya permintaan
dunia, menurut Chatib, merupakan akibat dari menurunnya
perekonomian dunia serta terjadinya deflasi.
Sedangkan kendala akibat terbatasnya pasokan, terutama
diakibatkan oleh biaya-biaya tambahan yang harus ditanggung
oleh pengusaha dalam menjalankan usahanya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga
Penyelidikan Ekonomi dan Manajemen (LPEM) UI tahun 2001,
sebanyak 79 persen responden pengusaha mengaku harus
membayar biaya tambahan saat berhubungan dengan birokrasi.
Berdasarkan penelitian tersebut, biaya tambahan yang
harus dikeluarkan oleh pengusaha yang melakukan usaha
di Pulau Jawa sebesar 11,2 persen dari total biaya produksi.
Sedangkan untuk luar Pulau Jawa, biaya tambahan yang
harus dikeluarkan 9,7 persen dari total biaya produksi.
Besarnya biaya tambahan ini hampir mendekati biaya yang
harus dikeluarkan untuk membayar upah buruh, yaitu sebesar
15 sampai 20 persen dari total biaya produksi.
UKM paling terbebani
Lebih jauh Chatib menguraikan, pengusaha menengah-kecil
(UKM) harus membayar biaya tambahan paling besar, yaitu
11 persen dari total biaya produksi. Sedangkan pengusaha
kecil harus membayar biaya tambahan 10 persen, pengusaha
menengah-besar sembilan persen, dan pengusaha besar
sebesar delapan persen.
"Sebenarnya pengusaha rela membayar biaya tambahan,
asalkan ada kepastian setelah membayar. Sayangnya, setelah
membayar, pengusaha tetap mendapat ketidakpastian. Akibatnya,
pengusaha enggan berinvestasi sehingga suplai menjadi
terbatas," kata Chatib.
Ia menambahkan, kompleksitas perburuhan, terutama dari
segi penegakan peraturan, menjadi masalah tersendiri
yang turut mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia
Hal lain yang menyebabkan terbatasnya pasokan untuk
ekspor adalah penyuapan dan ketidakpastian, yang mengakibatkan
banyak waktu terbuang.
Beberapa langkah
Menghadapi berbagai kendala yang masih akan mewarnai
sektor ekspor nonmigas Indonesia, Chatib menyarankan
agar pemerintah menerapkan nilai tukar rupiah yang kompetitif.
Kedua, Indonesia harus memelihara tren liberalisasi
perdagangan.
Antisipasi ketiga, pemerintah harus memperbaiki sisi
pasokan, misalnya, dengan memperluas penghapusan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), mengurangi biaya
tambahan dengan memperpendek meja birokrasi, membenahi
masalah perburuhan, dan memperbaiki infrastruktur.
Keempat, pemerintah harus dapat mengurangi angka penyelundupan.
(B16)
|